Kupu kecilku

Teringat masa kecilku ………….
Terlintas sejenak lalu, aku mengingat sesuatu. Tentang masa silam yang kembali merapung, diantara banyak misteri dan kenangan yang tertampung. Pada sebuah nama, memiliki kesamaan serta raut wajah seperti pinang terbelah dua. Nampaklah ciri itu, pada satu pertanda tahi lalat diantara bibir dan hidungnya. Sungguh ini menambah kekagumanku, kenyataan hanya mampu menunjukkan serangkai keistimewaan, sementara aku sepatutnya bersyukur atas hal sedemikian.

Bila saja semuanya kini berakhir seperti ini , tak mampu mengatakan penyesalan, tak pula harus ku katakan selamat tinggal. Sebatas pengharapan biarlah sengaja aku sisakan, untuk esok yang tak pernah kuterka.
Segala keheningan yang menemaniku, hanya mampu menuturkan sebuah sebaris kisah tentang cinta dan kenyataan. Ia pula selanjutnya menjadi penuntun arah, meski terkadang itu Cuma berdasar sebuah sejarah. Namun, sebetulnya kisah yang demikian adalah nyata, dan terjadi pada suatu masa kehidupan. Tentang kebenarannya tak lagi diragukan, lantaslah banyak orang menamai dengan sebutan pepatah bilang, riwayat orang, atau sejarah berulang. Kemiripan yang disandang mampu menggetarkan benak, membuat kepercayaan pada sesuatu yang beralih menjadi pedoman. Menggerakan hati, menuntun pikir dan melakukan tindakan mewujudkan angan yang menjadi nyata.
Diantara tindakan yang demikian, banyak pula orang menjadi tangguh, dan ada pula sebagian lantas mengambil jalan pintas. Kedua prinsip yang berbeda, semuanya hanya akan menuju satu tujuan dan sama pula. Kematangan pribadi yang terdidik, nampaklah ketika melewati jalan hidup, dengan cara yang berbeda. Anggapan dan pandangan yang muncul dalam setiap pribadi pun tak seiringan pada titik yang sama. Demikianlah sosok, sang manusia dalam wujud pribadi individu, mengejar masa depan, menggapai sebuah cita pada selembar kehidupannya. Derajat martabat , harkat dalam diri masing-masing bukti nyata sebuah perjalanan yang melewati proses, membentuk karakter menciptakan konsep hidupnya membuka persepsi tentang citra diri.
Biarlah sederetan kisah dan anggapan, menguatkan diri menapaki jalan kehidupan pada satu tujuan akhir yang sama. Menemukan kembali sisi hakikat, martabat sebagai sang manusia. Kenyataan yang datang dan silih berganti, jangan lantas sepenuhnya harus jadi perduli. Ia terkadang hanya menawarkan lelucon, yang sepatutnya menjadi bahan tertawaan. Untuk menghibur diri dalam suasana menjenuhkan. Hidup dan perjalanan kisah panjang tak seharusnya membuat langkah terhenti, namun memacu semangat untuk maju lebih jauh. Menghadirkan rasa penasaran, adakah sesuatu yang layak disadang dimasa datang. Selagi mentari masih terlihat, dan pertanda kehidupan mampu dirasakan, tetaplah bernafas untuk mewujudkan harapan.
Perjalanan kisah beranjak memisahan langkah, dari semula seiringan dengan orangtua, sahabat, atau sebuah pertalian saudara. Beralih menemukan sesuatu yang baru, menaburkan warna berbeda pada kisah yang semula putih semurni kesucian lambang abadi. Sewarna hidup yang terengkuh, sederet jejak tertinggal, menutupi jiwa dan pribadi masa kecil yang lugu. Meninggalkan sifat kanak-kanak, meremajakan diri, mendewasakan pribadi pada sebuah kematangan jiwa untuk menjadi sang guru bagi penerus generasinya. Hidup tak memiliki awal dan akhir, bersambut putus bersambung untuk seterusnya………… 03.16/140809______________ .

Iklan