Bukan dirimu

Tak per nah ada salah ………

Tak bermaksud menyalahkan, Diantara aku, engkau dan Dia atau bahkan siapapun tak pernah ada salah. Tentang satu kenyataan yang menimpa pada diri sehingga tersungkur seperti ini. Aku menjadi sangat rapuh, seluruh hidup telah lumpuh. Engkau yang beralih, memandangku mengisyaratkan kenyataan yang berbeda. Tentang mimpiku, yang tak mungkin nyata.

Sejenak kepastian itu kau lontarkan, bagai tusuk jarum yang meracuni dan tak sanggup aku menghindari atau pula untuk berlari. Sejuta kata ku haturkan hanya mengharap iba dan belas kasih, seperti memohon. Ada nada rendah ku suarakan, berbingkis maaf yang setulus. Jika masih engkau peduli, aku pun bersedia apapun ……….

Jika ini akhir yang engkau harapankan, tak seharusnya aku selalu mengenang. Sungguh aku sangat butuh, meski hadirmu sebatas mimpi. Keindahanmu beranjak memudarkan penglihatanku, semakin berkilauan tak tertepis oleh mata ku yang memandang. Bayanganmu yang seiringan langkahku, serasakan kini menjauh. Tak sanggup aku mengejar, mengikuti langkah meski dibelakang. Aku yang hanya berjalan menapak bumi, menerawang dari kejauhan engkau nampak berbeda, cara mu berjalan, seakan melangkah menapaki awan. Menjauh meninggalkan aku, melayang tinggi bersayap sejuta ambisi melambai pada madu-madu rayuan. Engkau begitu tenang, dengan berlimpah cahaya mutiara yang kau pendar. Menyapa sekeliling sejenak gelak tawa, sembari menyulam senyum tipis sebuah tanda persahabatan. Nada bicaramu anggun, penuh ramah menjamah sanubari. Menyejukkan segenap nurani, menyematkan azimat kekaguman. Tatapmu menepis keraguan, menyinarkan pengharapan.

Tak pernah ada salah, meski tak mungkin aku menyalahkan siapa pun tetap saja penyesalanku, serupa pupus yang tak perikan. Benih pengharapan itu, berlahan mengering, layu dengan sendirinya. Memaksa kan pada kematian yang meradang, menyandang pesakitanku luar biasa. Meski telah tertanam sedalam, kenangan dan masa indah dulu. Pun harus mampu, menahan mencabut paksa benih yang berakar, menggugur daun hijaunya, jatuh mengering. Tubuhku mengerdil, mengubah pada kenyataan dekil. Terkoyak langkah, lamban berjalan gontai. Menerjang tak karuan, apalah daya mengejarmu. Menyematkan kasih tak sampai…….

Iklan