Kusadari

Kenyataan pahit yang aku telan saat ini adalah proses. Ia mungkin sanggup meruntuhkan sebagian hidup, tapi setidaknya menyisakan puing kenangan. Sisi kenyataan yang bertolak belakang. Sedari awal hingga akhir ini, yang aku rasakan masih saja sama. Tak mampu untuk berpaling, mendua atau seterusnya. Iman yang aku pertaruhkan hanya menjadi serupa tetesan embun yang basah dikala pagi. Datang bila hari mulai berganti, segera pula pergi tertepis mentari dan semesta yang beranjak dari peraduan malamnya. Kesejukan pun tak mampu bertahan hadir menemani, membasuh muka kusut nan kering ini. Terik mentari beralih senja, Hati semakin menjadi galau. Asa beralih getir pun pupus oleh waktu.

Emosi perasaanku ikut terhanyut pada cerita kehidupan nyata. Ada sebagian perasaan yang aku turutkan sebagai pedoman, ada pula yang sengaja hendak aku lawan. Aku tahu jika keberadaan emosi sesaat itu mampu membawaku pada jalan yang berbeda. Seperti di sebuah persimpangan, maka harus kuputuskan satu untuk memilihnya. Jelas tidak mungkin bila aku berada pada dua suasana yang berbeda dalam satu waktu yang sama.

Hidupku mungkin semestinya begini, perjalanan yang ku tempuh telah membuka mataku pada kenyataan. Dunia yang berisikan gelap terang, hanyalah sepenggal kisah lama yang terus berulang. Jika sudah begini mau apa lagi?

Pengalaman masa lalu seberapa berharga untuk hari ini? Jika sanggup menjadi panutan hidup, lantas mau dikemanakan pepatah dan ajaran tuhan. Jika ada bagian yang memiliki kesamaan, mungkin sekedar menjadi bukti kenyataan yang berulang. Teori tentang kehidupan memang tak pernah berubah, namun terlalu banyak orang yang memandangnya dari segala penjuru dan arah, menjadikan hidup itu tak tentu kemana hendak menuju.

Kemiripan atau kesamaan dan pula perbedaan antara diri dengan orang lain semestinya wajar saja. Mereka pula masih manusia. Sekat yang membelenggu itu sebatas pemikiran dan perasaan. Pemikiran pula terkadang tak rasional, perasaan pula tak semalanya benar. Inilah yang kemudian disebut bimbang. Sesuatu yang tak yakin mengenai diri atau orang lain. Kebimbangan yang dirasa oleh pikir dan perasaan berakhir mengantarkan diri pada kenyataan yang sebenarnya.

Kenyataan hidup tak selamanya akan terus dipersalahkan, ia sejujurnya tulus mendampingi langkah kaki ini meniti waktu yang berputar. Roda-roda jaman telah silih berganti menawarkan pemandangan baru bagi kehidupan yang membosankan. Sejalan cerita yang hidup nampak seperti dongeng, diri ini merasa ada sejumlah cerita lain yang perlu untuk disimak. Jika saja semua cerita telah dapat dibaca tentu menghabiskan banyak waktu, untuk termenung memikirkannya. 1:18

Iklan