Aku dan Dunia

Diri yang sejati adalah ia yang apa adanya. Bukan tempat untuk sembunyi, sekedar berdiam dari kenyataan. Tunjukanlah pada dunia bahwa patut dibanggakan. Tidak semua aib berasal dariNya. Berusaha bertahan hidup berdiri diatas kaki sendiri bukankah lebih indah? Menyadari pada kekurangan diri menjadi suatu upaya menerima kenyataan penuh ikhlas. Karena diri tak mampu untuk dipersalahkan. Sehina apa pun diri ini, semestinya harus berlapang. Perjalanan hidup tercipta dariNya. Bagian yang tak terpisahkan sebagai insan sejati. Pengorbanan pada perjalanan kisah terkadang hanya bisa ditangisi. Rasa menyesal yang tak bernasib baik, tak seharusnya diperlakukan. Kekurangan, kelemahan selayaknya biarlah menjadi pelengkap, karena sudah sepantasnya. Perlakukan saja diri sesuai kemampuan terbaik, pasti saat nanti menjadi lebih berarti.

Berhentilah mengharap bila suatu saat nanti akan datang seseorang untuk membahagiakan hidup. Biarkan saja ia dengan kehidupannya, menjalani apa yang memang menjadi tugasnya. Karena sebenarnya kehidupan itu sama, semua terlalu sibuk dengan urusan pribadi. Hingga tak menyadari apa arti pengorbanan orang lain terhadap diri. Dan menjadikan diri sebagai individual murni.

Dunia yang semakin penat untuk dinikmati, masih saja menawarkan mimpi. Padahal segelintir orang telah menyerah. Karena kebisingan dari segenap akivitas yang menjadi simbol kehidupan itu sendiri. Pemaksaan yang terjadi tak mempu meredam gejolak dunia. Meski berjalan tertatih-tatih, merangkak terjatuh pun tak mampu setimpal peluh. Garis perbedaan kian panjangnya. Dunia hanya menyisakan malam serta gelap yang berselimut mimpi.

Keindahan dunia seperti makanan cepat saji, hanya memuaskan nafsu yang tengah melanda. Sungguh tak seberapa perut bisa menampung makanan, ada batas hingga ia rasa kenyang. Banyak orang telah mengerti bahwa berlebihan itu tidak baik. Memuaskan nafsu terhadap keindahan dunia, menjadikan lupa diri. Yang pada akhirmya orang diperbudak oleh nafsunya sendiri.

Keberanian untuk mengakui kegagalan dan memulai dengan sesuatu yang baru adalah wujud lapang dada dalam kenyataan. Kegagalan mencapai ambisi tak seharusnya berlanjut dengan jalan pintas atau keputusasaan. Kenyataan hidup masih menyisakan hari esok, yang mana hadirnya menuntut pertanggungjwaban.

Kegagalan merupakan kata lain dari konsep konsekuensi. Gagal berakibat fatal terhadap sederetan target yang harus terhapus. Kegagalan dalam hidup sepantasnya hanya seperti kehilangan kesempatan. Karena tidak ada kesempatan ke dua dalam hidup. Kesempatan yang sama tak akan berulang kembali, berganti waktu dan keadaan yang jauh berbeda. Esok akankah lebih baik?  3;21 01/07/09

Iklan