Dengarkan Aku

Kenyataan telah membuka kedua mataku, pemikiranku, hatiku, serta memaksaku menerima sebuah kegetiran hidup. Tak mempedulikan siapa aku, bagaimana aku, atau seperti apa aku; jika saja aku serapuh ini; ringkih, mudah patah, tak banyak bicara, penuh pengharapan, begitu membutuhkan, merasa tak berdaya,terkunyah mentah-mentah oleh kenyataan.
Kenyataan hidup telah memukul rata, segenap kesanggupan jiwa. Tanpa berkata, atau sekedar isyaratkan makna jika aku harus mampu, kuat, tabah, sabar, mungkin juga ihklas. Satu persatu, butiran makna itu aku telan meski menyisakan sebuah pesakitan, getir dalam rongga dada, menyesakkan nafas, membuatku menyadari betapa nilai hidup yang harus aku jalani. Kesendirian yang aku rasakan, semakin bertambah saja sebagaimana lambaian tangan yang mulai tak nampak dikejauhan. Meninggalkan serupa berpesan akan makna, hikmah dan menitipkan selembar kenangan dalam selintas perjumpaan. Meski semua telah terlewat, keberadaaan hatiku semakin menjadikan beku,tentang perasaan yang semula aku nyatakan. Mirip seorang yang sangat menyedihkan, tersudut pada kenyataan, termenung pada kenangan, terhempas oleh sebuah kenyataan hidup.
Kebesaran jiwa yang aku bawa sejak lahir, semestinya sanggup menyembuhkan atau setidaknya bisa membalut luka hati ini agar tak semakin parah. Menghentikan rasa penyesalan,menghapus kebencian, dan keputusasaan yang meradangkan nilai semakna keluruhan, budi dan pekerti.tentang kesabaran seberapa sanggupkah ia meredamkan emosi yang bergejolak selaksa api membakar, menghanguskan tanpa peduli apakah diri ataukah hati sebening embun pada rumput hijau musnah hangus.
Kedewasaanku tak begitu kuat menahan gejolak jiwa dan perasaan yang hendak meluap, meletup-letup, terbawa hembusan angin atau badai hidup. Menghirup nafas aku tak sanggup, serasa tersengal-sengal layaknya ashma yang kambuh disenja hari. Penawar getir kenyataan tak kunjung aku temukan, hanya secercah cahaya iman itu masih saja menyala menerangi gelap dalam dini usia.
Esok mungkinlah ada harapanku itu bertemu hari yang cerah, menatap semuka, sebening mata memandang, semanis senyum yang ditawarkan, semanja peluk dan sayang, selentik jemari membuai angan, keindahan raut wajah kujelajah, kasih cinta yang selamanya setia, dalam damai atau duka dalam kenyataan seumur usia hingga senja. Sosok penari menghibur gulana, bidadari dalam nyata, perempuan sejati sang penyejuk hati, perawan cintaku untuk selama sehidup semati.
Untuk kebahagian yang kurindukan. Dan hilanglah semakna aku dan kamu menjadi hanya kita berdua. Dalam pertalian sunah sebagai anugerah. 3:49,110809

Iklan