Kini Duniaku

Seberapa pintar dunia ini menipu diriku? Aku pula menjadi sangat bergantung padanya, menjadi begitu bodoh. Semua pandangan akan sebuah kebenaran, seolah kabur serupa samar seperti bayang-bayang yang tak tersentuh. Jangankan untuk ku melihat serupa raut parasnya, ia justru semakin menjauh dan meninggalkanku bersama kefanaan yang nyata. Sehingga liku perjalananku serasa membelenggu pada seutas tali pemikiran palsu dan jerat-jerat materi duniawi dalam keseharianku.

Seluruh hidup seperti tak mudah kukendalikan, ego yang nampak kuturutkan terkadang berbalik  memperbudak diriku. Memaksaku berlari, menerjang dalam siang dan malam yang tak bertuan. Membujuk dan merayuku, lewat manis selintas gemerlap yang ia tawarkan, dalam kenyamanan hampa semudah berantakan dengan satu detik waktu. Angan dan fikiranku, menjadi begitu mudah terpancing, terangsang oleh kelentikan tarian syurga dunia dan bidadari jelmaan fantasi. Merengggut sebagian hidup, memusnahkan waktu, menyeret usia pada hal-hal yang sia-sia, menuntun langkah pada jurang kematian abadi, membutakan hati untuk melihat kebenaran ilahi. Semakna itu juga, serasa seluruh hidup terombang-ambing ditengah badai dan derap langkah seribu.

Keseharianku yang kulewatkan hanyalah sebatas mengikis usia dini pada kedewasaan dan menuju pada akhir usia senja. Menghabiskan umur pada satu arah tujuan langkah sepertinya mudah, hanya dengan satu kali putaran saja sudah cukup tak berlanjut. Tapi hidup, penuh dengan sesuatu yang rumit. Saling berkait antara satu dan beragam urusan lain. Menyebabkan muncul banyak seklai, masalah, tantangan, cobaan, atau sekedar ujian. Menambah sederet daftar panjang tujuan hidup yang semula satu.

Banyak urusan semestinya sanggup ditangani, bukan menjadi pekerjaan rumah buat anak, cucu dan generasi. Sebab mereka juga punya urusan sendiri, yang tentu saja berbeda dengan para pendahulunya. Jika saja mewariskan kebaikan itu sebuah kewajiban, seharusnya mewariskan setumpuk masalah janganlah sebagai kebiasaan. Cacat dan cela pada sang generasi cukuplah sebab kehendak alam, bukan dicampuradukan dengan status sebagai pewaris dari pendahulunya. Demikian sama halnya rangkaian mata rantai tak berujung, saling menyambung dan menyumbang kehinaan berlanjut untuk semua keturunan hingga dunia berakhir.

Kebenaran yang mungkin, bila sebuah pengorbanan itu sebagai tebusan kebaikan masa depan. Lantas seperti apa pengorbanan yang layak, dan sanggup mengubahnya?

Hidup penuh pengorbanan adalah berbeda dengan hidup yang dikorbankan. Keduanya hanya semakna berkorban, tapi selebihnya akan sangat lain maknanya. Pengorbanan ibaratkan, uang untuk menukar atau membayar suatu yang lebih bernilai dan begitu dibutuhkan. Tak mungkin seorang membeli sesuatu yang tidak ia butuhkan, atau suatu yang tidak  berharga. Demikian sebuah pengorbanan pasti ada syarat dan ketentuan berlaku, serta niat yang menjadi ikrar. Hanya saja tidak setiap pengorbanan dibayar setimpal, karena banyak pula hal menentukanya. 0:06 120809

Iklan