Hidup Bahagia-Sejahtera

Potret jambi kluarga Anas dan ayah
Anas' jambi

Banyak orang mendambakan hidup yang adem, ayem, tentram, serta merasa tak kurang suatu apapun. Wah mengkhayal bener ya?? Jika anda termasuk didalam salah satunya, penulis coba terangkan konsepnya. Bagaimana caranya? Simak baik-baik dan perhatikan, Begini ……

Sekali lagi sudah menjadi kodrat manusia bahwa ia selalu berusaha untuk bisa mendapatkan yang terbaik. Memang setiap orang juga pasti mendambakan seperti yang anda dambakan tadi.

Dengan kata lain, kita itu kepengen banget punya hayatan thayyibatun (hidup senang, gembira, nikmat, sejahtera, lezat, mulia, untung, tentram, dan sebagainya, secara lahiriah maupun batiniah). Secara lahiriah tidak kekurangan suatu apa pun, sedang batiniah adalah sebuah kepuasan hati. Metode sederhananya; secara lahiriah usaha ditempuh dengan cara muamalah, sedangkan secara batiniah dengan cara ibadah mahdlah (murni).

Bagi seorang muslim, kehidupan yang demikian itu bisa diperoleh dengan mengendalikan hawa nafsu (keinginan biologis). Iman dan takwalah pengendali yang efektif. Ia kekuatan yang memelihara mereka dari nilai-nilai rendah dan alat penggerakkan untuk meningkatkan nilai mulia (akhlakul karimah). Mereka menjadi pemenang (Qs Al-Nur ayat 52) dan mereka akan memperoleh kehidupan tersebut. (Al Nahl ayat 97). Hal tersebut diperoleh dengan menyeimbangkan antar kehidupan dunia dan akhirat agar berjalan bersama dan serasi. Berupaya semaksimal mungkin untuk mencapai kebaikan di dunia agar hidupnya menjadi senang, nikmat, gembira, dan bahagia; sebagaimana “Beramal-lah untuk duniamu seolah-olah hidup selamanya dan beramal-lah untuk akhiratmu seolah-olah esok enggkau mati” (Ali bin Abi Thalib). Kehidupan yang didambakan itu kadang disebut dengan hayatan hasanah, sebagaimana diajarkan Allah SWT dalam berdoa (QS Al-Baqarah ayat 201). Dengan demikian, yang bersifat materiil akan menentramkan hati bila disertai iman. (Al-Ra’ad ayat 28) Kebahagiaan materiil yang tidak disertai iman akan menjadikan gelisah, mengeluh, guncang, dan putus asa karena hatinya tidak pernah terpuaskan dengan materi yang diperolehnya. Dapat disimpulkan, hidup sejahtera tidak bisa hanya diperoleh dengan pemenuhan kebutuhan lahiriah, tetapi harus disertai pemenuhan kebutuhan batiniah, yakni hati yang qana’ah (menerima kenyataan), berlaku zuhud, sabar, tawakal dan sebagainya. Sikap ini adalah suatu ketrampilan, diperlukan latihan (riyadhah) dan kesungguhan (mujahadah). Seseorang akan mendapatkan kehidupan yang diidam-idamkan antara lain dengan hidup sederhana (zuhud), yakni sikap mental tidak terikat dengan gemerlapnya materi duniawi, stabil dalam bersikap; sugih dalam kemlaratan dan melarat dalam kesugihan, dan senantiasa membersihkan hati (QS Ay-Syam ayat 9-10). Dengan sikap yang mulia itu, akan diperoleh ketenangan lahir batin di dunia dan akhirat;

“Hai jiwa yang tenang kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi ridha-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah–jamaah hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku”. (QS Al Fajr ayat 27-30).

Wallahua’lam bish shawaab …….

(dikutip dari : forum Terapi hati Harian SINDO)

Iklan

One thought on “Hidup Bahagia-Sejahtera

Komentar ditutup.