Sang Penyejuk Hati

Wanita adalah salah satu keindahan duniawi, sehingga syetan tertarik menggunakanwanita sebagai salah satu jalan untuk menggoda manusia menjadi pengikutnya, seperti halnya emas, permata, harta dan hal lain yang menyenangkan…“Tiada aku meninggalkan suatu fitnah sesudahku lebih berbahaya terhadap kaum pria daripada godaan wanita“. (HR. Bukhari dan Muslim).

Wanita adalah sebuah bukti keagungan Allah, Dia menciptakan mahluk yang mampu membawa pengaruh yang sangat besar dalam sejarah manusia, karena dari rahim seorang wanita terpilihlah yang akan melahirkan manusia-manusia hebat penjaga bendera Islam. Namun Banyak juga lelaki yang hancur karena kecintaan mendalam kepada wanita dan banyak juga yang meraih kesuksesan karena memilih wanita yang tepat untuk menjadi pendamping hidupnya. Semua itu tergantung bagaimana manusia memilih sebuah pilihan untuk dijadikan pilihan hidup dalam rangka mencapai tujuan hidup.

Mau tidak mau, setuju atau tidak setuju salah satu kebahagiaan kaum adam adalah memiliki seorang istri yang menyenangkan hati, bila dipandang menyejukkan dan jika ditinggalkan di rumah menenangkan hati…Allah ‘Azza wajalla berfirman (dalam hadits Qudsi): “Apabila Aku menginginkan untuk menggabungkan kebaikan dunia dan akhirat bagi seorang muslim maka Aku jadikan hatinya khusyuk dan lidahnya banyak berzikir. Tubuhnya sabar dalam menghadapi penderitaan dan Aku jodohkan dia dengan seorang isteri mukminah yang menyenangkannya bila ia memandangnya, dapat menjaga kehormatan dirinya, dan memelihara harta suaminya bila suaminya sedang tidak bersamanya”. (HR. Ath-Thahawi)

Lalu kriteria seperti apa yang menyenangkan itu? mari kita runut kembali apa yang disabdakan oleh rasulullah SAW, “Wanita dinikahi karena empat faktor, yakni karena harta kekayaannya, karena kedudukannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Hendaknya pilihlah yang beragama agar berkah kedua tanganmu”. (HR. Muslim).

Perlu kita mengingatkan kembali ke dalam hati kita, segala sesuatu akan bernilai menjadi ibadah atau tidak tergantung niat kita, keberkahan Allah dalam setiap pilihan kita tergantung niat kita dalam menjalani dan melakukan sesuatu. Oleh karena itu kita perlu meresapi apa yang disabdakan rasulullah SAW, “Barangsiapa mengawini seorang wanita karena memandang kedudukannya maka Allah akan menambah baginya kerendahan, dan barangsiapa mengawini wanita karena memandang harta-bendanya maka Allah akan menambah baginya kemelaratan, dan barangsiapa mengawininya karena memandang keturunannya maka Allah akan menambah baginya kehinaan, tetapi barangsiapa mengawini seorang wanita karena bermaksud ingin meredam gejolak mata dan menjaga kesucian seksualnya atau ingin mendekatkan ikatan kekeluargaan maka Allah akan memberkahinya bagi isterinya dan memberkahi isterinya baginya”. (HR. Bukhari).

Lalu dimanakah wanita terpilih itu…., pilihan hidup tergantung sudut pandang dalam memaknai hidup, islam hanya memberikan rambu-rambu dan petunjuk,…tak ada paksaan, namun selalu akan ada resiko entah resiko di dunia ataupun di akhirat. Kita sebagai umat manusia mungkin sangat perlu kembali merenungkan firman Allah dalam surat Al Baqarah ayat 8, ”Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian”, padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman”. Apalagi kita sebagai umat muslim yang jelas mengaku sebagai beragama islam, tentu harus membuktikan keimanan kita, karena dunia ini adalah tempat untuk membuktikan kapasitas kita agar layak masuk ke dalam surgaNya, setelah dunia ini tak ada kesempatan lagi.

Wanita terpilih itu adalah mereka yang mampu membedakan mana kebaikan bagi dirinya dan mana yang merupakan perangkap syetan bagi dirinya. Seperti hal berdagang tentu yang diharapkan adalah keuntungan, kita juga berharap mendapatkan keuntungan ketika memutuskan untuk memilih pendamping hidup kita, keuntungan pertama adalah keuntungan duniawi maksudnya jodoh kita mampu memberikan kebahagiaan dalam berumah tangga karena surga dunia itu diawali dari kebahagiaan dalam rumah tangga, kemudian keuntungan kedua adalah memberikan keuntungan akhirat karena apalah artinya keuntungan dunia jika tak dibarengi dengan keuntungan akhirat…”Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?, Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya “. (QS Al Kahfi 103-104). Karena Allahlah pemilik waktu, kita tak bisa sedikitpun mampu mengembalikan masa lalu sekedar untuk memperbaiki pilihan hidup, tuntunan Allah dalam masalah ini sesungguhnya adalah menghindarkan kita dari kata, “untung aku tak memilihnya”, dan menuntun kita untuk mengucapkan “Alhamdulillah kebahagiaanku terasa lengkap karena Allah memberikan pendamping hidup yang sholeh/sholehah”. “Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan sifulan itu teman akrab (ku)”. (QS Al Furqaan 28).

Wanita terpilih itu adalah mereka yang selaras dengan tujuan hidup sesungguhnya. Kita juga perlu menyelaraskan pilihan kita dengan tujuan hidup kita, jika tujuan kita adalah memperbaiki generasi, maka sudah wajar pilihan kita adalah mereka yang kita anggap mampu untuk melakukan perbaikan, dan syarat dari perbaikan adalah dirinya sendiri harus mampu melakukan perbaikan. Karena dalam biduk rumah tangga tentu akan ada masalah yang menerpa, akan ada lika-liku yang harus dilalui bersama, sehingga sangat perlu penyatuan misi hidup, karena jika tidak maka akan terjadi ketidakharmonisan yang akan menimbulkan konflik dalam hati dan pada akhirnya akan menimbulkan kekecewaan, “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS At Thagaabun 14).

Sudah menjadi ketentuan Allah bahwa lelakilah yang akan mengucapkan ijab qabul dalam pernikahan, dan itu menandakan bahwa ia telah berjanji kepada Allah untuk siap mempertanggung jawabkan pilihan hidupnya tersebut, jangan sampai pernikahan itu hanya sebatas pernikahan semata namun tidak diniatkan karena Allah. “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”. (QS At Tahrim 6).
Wanita pilihan itu adalah dia yang mampu melaksanakan perintah Allah, tidak hanya mengetahui perintah Allah, karena ia sadar segala perintah Allah itu ditujukan untuk menjaga kemuliaannya dan menjaga kesuciannya. Apakah kita yakin mampu merubah seseorang menjadi lebih baik, sedangkan diri kita sendiri saja sangat susah untuk mengakui dosa-dosa kita, ketika wanita pilihan itu adalah dia yang mampu melaksanakan perintah Allah, maka hati kita akan semakin tentram dalam menjalani kehidupan, karena kehidupan bersama akan menjadi penyatuan dalam perbaikan hidup.

Wanita pilihan itu adalah dia yang murah maharnya namun mahal harga dirinya. Wanita pilihan itu adalah dia yang mampu mengerti dan memahami “saya adalah wanita bukan laki-laki, jadi saya harus berhati-hati dan menjaga diri dari pergaulan lawan jenis”. Wanita pilihan itu mahal harga dirinya sehingga untuk dapat berbicara bebas dengannya, untuk bisa mengajaknya pergi bersama tidak akan pernah mau kecuali telah memenuhi syarat, yaitu akad nikah. “Janganlah laki-laki berduaan dengan perempuan (lain) kecuali perempuan itu didampingi mahramnya, dan janganlah seorang perempuan melakukan perjalanan (musafir) kecuali didampingi mahramnya”. (HR. Muslim).

Wanita adalah perhiasan dan keindahan dunia, keindahan yang dapat berbicara, keindahan yang dapat tersenyum dan bercanda, keindahan yang dapat memberikan saran, keindahan yang dapat meneguhkan semangat juang, dan keindahan yang mampu menyentuh jutaan pujangga untuk menuliskan syair cinta. Namun keindahan itu memiliki hukum ketertarikan, dan ketertarikan itu memiliki reseptor syetan dalam jumlah lebih banyak, kita mungkin sangat perlu mengingat kembali sabda rasulullah SAW, “Wahai kaum wanita, aku tidak melihat dari suatu kaum (orang-orang) yang lemah akal (pemikiran) dan lemah agama lebih menghilangkan hati orang-orang yang sehat akal dan benaknya dari pada kamu (kaum wanita). Aku telah menyaksikan neraka yang penghuninya paling banyak kaum wanita. Maka dekatkanlah dirimu kepada Allah sedapat mungkin”. (HR. Bukhari).

Maka sebaiknya pilihan kita adalah pilihan hati nurani, bukan nafsu semata…apalah arti memiliki istri secantik bidadari namun itu hanya sebatas 40 tahun semata, setelahnya dipanggang dalam api neraka karena lebih banyak lalai terhadap akhirat. Tidak hanya memilih menggunakan mata, namun menggunakan mata hati dan petunjuk Allah SWT, karena bagaimanapun kita mengakui bahwa Allah adalah Tuhan kita. Dia yang akan memberikan kebahagiaan dalam hati kita, jangan sampai Allah memberikan kebahagiaan dalam pilihan kita karena Allah memberikan kenikmatan sebelum siksa. Berapa banyak yang terlalaikan karena hanya menganggap kebahagiaan hanya dari sudut pandang tiga dimensi semata, padahal kebahagiaan dunia ini hanya sementara.

Iklan

One thought on “Sang Penyejuk Hati

Komentar ditutup.